kesempatan kedua

4 Jan 2011

Hari ini saya berpikir tentang kesempatan kedua. Sebenarnya sih,pada mulanya saya teringat pada sepupu saya yang baru-baru ini mengalami musibah ditipu orang. Sepupu saya ini, meski saya tidak mengenalnya baik, tapi meninggalkan kesan yang baik di hati saya. Dia sendiri memang orangnya baik sih. Salah satu yang pernah dia lakukan adalah membiayai seseorang lulusan SMA untuk mengikuti kursus reparasi handphone. Harapannnya, sesudah orang tersebut mahir akan dipekerjakan di counter handphone miliknya. Orang itu sendiri, adalah anak dari sepupu saya yang lain, jadi dengan dasar pemikiran bahwa masih ada hubungan saudara, maka layak dipercayai untuk meng-handle counter pulsa nya inilah orang ini dipilih.

Yang terjadi kemudian adalah,sesudah lulus dari pelatihan reparasi handphone,orang tersebut justru membuka counter handphone sendiri di rumahnya. Berkhianat, begitu saya katakan apa adanya. Tetapi,karena pada dasarnya memang Tuhan tidak berkenan dengan caranya,counter itu akhirnya merugi dan bangkrut. Jadilah orang ini menganggur beberapa lama. Tetapi yang unik adalah, sepupu saya kemudian pada akhirnya memberikan kesempatan kedua untuk orang yang telah mengkhianatinya ini. Ia dipekerjakan di counter handphone sepupu saya. Tahun baru kemarin, mereka berdua membeli petasan di rumah saya (saya jualan musiman). Akrab, seperti sahabat lama. Tentu, sepupu sayalah yang membayari ratusan ribu petasan yang dibeli tersebut. Disinilah saya salut padanya.Dia mempunyai hati yang cukup besar untuk memberikan kesempatan kedua pada orang yang pernah menyalahinya.

Saya sendiri adalah tipikal orang yang kaku dan keras terhadap hal-hal yang prinsipal untuk saya. Sekali orang melukai saya ataupun orang terkasih saya, sulit sekali memberikan kesempatan kedua tersebut. Tapi dari pemikiran saya hari ini, saya belajar hal yang sangat penting:
LEBIH BAIK MENJADI ORANG YANG MEMBERI KESEMPATAN KEDUA DARIPADA MENJADI ORANG YANG DIBERI KESEMPATAN KEDUA.
Apakah anda setuju dengan saya? ?

Ohya, siang ini saya membaca berita mahasiswa yang gantung diri di kamar kosnya karena takut sudah menghamili kekasihnya.
Membaca headline beritanya, korban tinggalkan dua surat wasiat, entah kenapa otak saya berpikir bahwa kata korban bukanlah kata yang tepat. Kata yang lebih tepat adalah almarhum, karena mahasiswa tersebut memilih untuk membunuh dirinya sendiri. Ia adalah tersangkanya. Dan menurut saya, tindakan bunuh diri apapun cara maupun permasalahannya, adalah tindakan yang paling kejam yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Seberapa banyakpun kata sayang, cinta, terimakasih,maaf tidaklah sebanding dengan rasa duka dan kesulitan bahkan trauma yang diberikan pada keluarga pasca kejadian. Rasa duka, kehilangan, malu, dan yang paling gawat adalah rasa bersalah.

Ketakutan almarhum untuk bertanggung jawab terhadap orang tuanya karena sudah melakukan kesalahan adalah wajar. Namun,sungguh disayangkan ia memilih jalan mati. Saya sungguh kasihan pada pacar almarhum,yang kini hamil dan tidak ada partner memikul tanggung jawab bersama. Belum lagi duka karena kehilangan orang yang disayangi. Demikian pula kasihan orang tua almarhum. Menurut saya,jika ditanya lagi pastilah orang tuanya memilih untuk diberi kesempatan kedua-memilih memaafkan anaknya dan mengajari anaknya bertanggungjawab. Sayang, tidak selalu kesempatan kedua itu ada bukan?

Alangkah baiknya menjadi orang yang mau memberikan kesempatan kedua daripada orang yang meminta diberi kesempatan kedua.

Hari dimana tulisan ini dibuat, hari kedua di 2011, akhirnya saya bisa meresapi kata-kata tersebut.


TAGS Meaning


-

Author

Follow Me