Resep yang Kau Bilang Norak Namun Mujarab!

13 Jan 2011

Bukan ngomongin jimat kok..cuman pengen tanya,

Hidup kamu berapa sih harganya?

Pernah ngga dikasih pertanyaan frontal seperti itu?apa jawaban anda?

Saya sendiri pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini pada sebuah sesi diskusi. Semua peserta menjawab, wah berharga banget.

Kalo aku beli, seharga sekotak pizza, mau? Seharga sebuah blackberry deh? Kalo seharga sebuah motor deh, mau?

Masih nggak mau?

Gimana kalo seharga sebuah mobil? Rumah? Apa jawaban anda? Pasti kalau anda sehat dan normal anda akan menyadari dan menjawab bahwa hidup anda jauh lebih mahal daripada semua benda-benda itu. Sayangnya nggak semua orang menyadari harga hidupnya dan menyianyiakan harga yang mahal itu, hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara dan material.

Contoh nyata yang sering dan banyak sekali dijumpai diantara kita, ketidak pedulian kita pada keselamatan berkendara, atau safety riding. Kebanyakan sih memang pengendara motor yang sudah terlanjur terbentuk pola pikirnya berkat TVC sepeda motor yang dicitrakan begitu gesit dan bisa nyelip diantara kendaraan-kendaraan lain. Puji Tuhan, sekarang dua brand pemegang pasar motor terbesar di Indonesia mulai aktif mengkampanyekan safety riding juga, meski sebenarnya agak terlambat.

Kembali ke topik, seharusnya, ketika kita sadar bahwa nyawa kita itu lebih berharga dibandingkan apapun, maka tentunya tak usah diawasi pak polisi, dengan kesadaran sendiri kita akan menjalankan tata tertib safety riding. Banyak tempat yang rawan kecelakaan lalu lintas saat ini sudah diberikan spanduk/banner mengenai bahaya ngebut, misalnya: jaga kecepatan dan jarak, orang terkasih menanti anda dirumah. Sayangnya, spanduk-spanduk tersebut belum mengkampanyekan / menggalakkan gerakan safety riding.

Banyak kecelakaan lalu lintas yang berujung pada kematian (sia-sia) yang sering kita baca / dengar di media, entah itu karena kecelakaan dari individu sendiri ataupun dari keluputan orang lain. Sering pula kita dengar bahwa tersangka dihakimi massa. Lalu, sebenarnya ada apa dengan masyarakat Indonesia ini kok rasanya begitu susah mendisiplinkan diri dengan ambil bagian dalam safety riding? Apakah penduduk Indonesia tidak bisa menghargai nyawa mereka / kehidupan orang-orang terkasih mereka? Kalau begitu, sia-sia saja dong puasa, jaga hati, dan ibadahnya, lha dititipi satu nyawa aja nggak bisa bertanggung jawab?

Sebagai bagian dari warga negara Indonesia,dan sesama pengguna jalan, saya sangat penasaaran dengan gebrakan baru dari komunitas-komunitas di dunia maya seperti dblogger dan @gethomesafely lakukan untuk mengkampanyekan safety riding. Apakah akan bagi-bagi kaos, atau helm (lagi), atau pasang baliho, atau bagi-bagi stiker? Tak sabar rasanya bergabung juga.

Nah, kalau sekarang berpikir sebagai individu, kira-kira apa ya yang bisa saya dan teman-teman dblogger lakukan untuk mendukung kampanye safety riding ini? Kalo saya sih ada beberapa hal yang sudah dan akan saya lakukan:

  1. Pasang stiker agar hati-hati di bagian belakang helm saya, juga di bagian badan motor.
  2. Menolak naik sepeda motor yang tidak ada spionnya sebelah ataupun tidak ada spionnya sama sekali. Juga, saya berusaha menasehati teman-teman dan sepupu saya yang sengaja mencopot spionnya semata demi gaya. Menolak dibonceng mereka yang belum punya SIM.
  3. Sebisa mungkin berkendara motor di sebelah kiri karena memang itu jalurnya motor, kalo mau pulang hidup-hidup.
  4. Memakai helm saat berkendara jauh dekat, dan menolak ngebut. Saya tidak bisa mengendarai motor sendiri akibat trauma kecelakaan dan sejak saat itu saya selalu merepet gak karuan bila yang membonceng saya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan menukik tajam sewaktu menikung.
  5. Berusaha menasihati mereka yang suka berboncengan tiga orang atau lebih dengan menggunakan satu motor,menghujat abege tanggung yang suka mengganggu jalanan dengan mengemudikan dua motor beriringan dan satu kaki di naikkan ke motor sebelah.
  6. Akan membeli / membuat stiker untuk jaga jarak untuk ditempelkan di kaca belakang mobil saya.
  7. Tidak mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, dan berprinsip lebih baik mengalah daripada nabrak, alias “luwih becik ngalah timbang nutul“. Saya juga suka merepet gak karuan kalau pengemudi mobil yang saya tumpangi mulai tergoda untuk kebut-kebutan dengan kendaraan yang seenaknya menyalip mobil dari belakang.
  8. Selalu perhatikan arah belakang mobil sebelum membuka pintu, agar tidak mencelakakan orang lain dan menjerat diri kita sendiri dalam masalah baru.
sumber gambar: http://sepung.blogdetik.com

sumber gambar: www.sepung.blogdetik.com

Ya, rasa trauma saya akibat dua kali ditabrak sepeda motor ngebut membekas amat dalam, sampai-sampai instruktur mengemudi saya geleng-geleng. Tak ada salahnya kita menjadi penumpang yang menyebalkan daripada menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Itu prinsip saya, dan saya harap makin banyak orang bergabung mengkampanyekan safety riding di lingkungannya masing-masing. Setidaknya, dengan menjalankan safety riding, kita sendiri sudah mengurangi 50% resiko mengalami kecelakaan lalu lintas.

Nah, sesudah membaca tulisan saya, apakah anda sudah terinspirasi bahwa ternyata penumpang pun bisa berperan aktif dalam gerakan safety riding juga?Norak dan nyebelin sih, tapi mujarab banget buat saya :D


TAGS blogger for safety riding


-

Author

Follow Me